Dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, seddiam nonumy eirmod tempor. invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat, sed diam voluptua. Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadip- scing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat, sed diam voluptua. Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur sadipscing elitr, sed diam nonumy eirmod tempor invidunt ut labore et dolore magna aliquyam erat, sed diam voluptua. Lorem ipsum dolor sit amet, consetetur.
 

Polisi Kejam Asal Jambi Yang Membunuh Banyak Orang


Tubuh perempuan muda itu terbujur bersimbah darah. Dingin. Kaku. Sebuah lubang akibat tertembus peluru menganga di bagian pelipis. Lima peluru lain bersarang di bagian tubuh, melubangi kemeja bermotif Cina yang dikenakannya.

Setahun lalu, temuan mayat itu menggegerkan Dusun Kemang, Palalawan, Riau, yang biasanya sunyi. Tak ada warga yang mengenali jati diri wanita malang tersebut. Ia jelas bukan penduduk setempat. Warga dusun yang lugu kemudian mengubur jenazah di lahan belukar, dua kilometer dari jalan beraspal.

Misteri baru terkuak Senin tiga pekan lalu. Petugas dari Kepolisian Daerah Riau yang melakukan pembongkaran makam dan pengenalan jenazah memastikan wanita muda itu adalah Nurmarta Lily, karyawati sebuah salon di Jambi. Usianya 33 tahun.

Nurmarta adalah istri sekaligus salah satu korban kebiadaban Inspektur Satu Gribaldi Hamdayani. Anggota Kesatuan Telematika Polda Jambi ini diduga terlibat serangkaian kasus pembunuhan. Setidak-tidaknya ia telah menghabisi tujuh nyawa di wilayah yang terentang antara Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Semua terbongkar setelah Gribaldi ditangkap oleh petugas dari Polda Riau dua bulan lalu dalam kasus lain. Perwira polisi berusia 38 tahun itu diduga terlibat kasus penipuan dan pemilikan kendaraan bermotor dengan nomor palsu.

Tak disangka, ketika melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti di rumah tersangka di Jambi, petugas menemukan ratusan peluru senjata jenis Colt 38, revolver yang biasa digunakan polisi. Kecurigaan pun mencuat. Soalnya, sejak berdinas lima tahun lalu di Polda Jambi, ia tak pernah diberi kepercayaan memegang senjata api.

Kebetulan akhir tahun lalu polisi Sumatera Selatan dan Riau menemukan sejumlah mayat di wilayah mereka dengan bekas luka tembak. Di kawasan Banyu Lincir, Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, misalnya, polisi menemukan jenazah Listy Kartika Baiduri, 30 tahun, dan Ngadimin, 50 tahun.

Kedua korban ditemukan tewas dengan kepala tertembus peluru dan tubuh hangus terbakar. Listy, janda beranak satu, adalah warga Payo Silincah, Kota Jambi. Begitu juga Ngadimin adalah warga Kota Jambi dan bekerja sebagai wartawan tabloid Derap Hukum. Tempat tinggal kedua korban berjarak ratusan kilometer dengan lokasi ditemukannya jenazah mereka.

Di Bagan Batu, Riau, polisi juga menemukan jenazah Gusmarni, 31 tahun. Lagi-lagi dengan bekas luka tembak di bagian kepala dan tubuh hangus terbakar. Janda tanpa anak warga Kota Baru Jambi tersebut dilaporkan hilang tiga tahun lalu dengan membawa sebuah sepeda motor dan mobil Toyota Hardtop.

Dari hasil penyelidikan polisi, diketahui bahwa peluru yang bersarang di tubuh ketiga korban sama jenisnya dengan yang disita dari rumah Gribaldi. Maka, petugas mencurigai sejawat mereka itu terkait dengan tewasnya orang-orang tersebut.

Namun polisi kesulitan mengungkap kasus itu secara cepat karena Gribaldi selalu diam membisu. Kekhawatiran mencuat. Jangan-jangan tersangka tak waras. Pemeriksaan kejiwaan pun dilakukan. Hasilnya? "Dia sehat. Tak menderita gangguan jiwa akut atau gila," kata juru bicara Polda Riau, Ajun Komisaris Besar Polisi Amien Rachimsyah.

Pemeriksaan yang telaten disertai pengajuan sejumlah bukti kembali dilakukan. Akhirnya Gribaldi mau buka mulut. Dia mengaku telah merampas nyawa ketiga orang tersebut. Pengakuan perwira yang memulai karier dari jenjang bintara itu belum berakhir.

Ternyata masih ada empat korban lain yang telah ia bunuh. Mereka adalah Rusdin Sidauruk, warga Medan, Sumatera Utara, Mohammad Ali alias Mamad, warga Jambi Selatan, dan Yeni Farida, warga Telanai Pura, Kota Jambi. Dan terakhir adalah istri simpanannya sendiri, Nurmarta Lily.

Berdasar keterangan Gribaldi, polisi bergerak menelusuri lokasi-lokasi pembuangan mayat korban. Tiga jenazah dapat ditemukan dan dikenali. Hanya satu yang belum ditemukan, yaitu Yeni Farida, yang jenazahnya, menurut pengakuan Gribaldi, dibuang di daerah Air Molek, Riau.

Polisi tentu tak hanya bersandar pada pengakuan Gribaldi. Upaya pencarian tetap dilakukan. Mengingat kepintarannya mengaburkan identitas korban dan kegilaannya yang telah berlangsung sejak enam tahun lalu, polisi juga tak menutup kemungkinan adanya korban lain. "Ini masih terus kita kembangkan," kata seorang penyidik di Polda Riau.

Entah setan apa yang bersemayam di tubuh Gribaldi. Perwira muda berkulit cerah itu enteng saja mencabut nyawa orang. Alasannya kadang sepele. Nurmarta, misalnya, ia bunuh hanya karena rasa cemburu. Ia mencurigai istri simpanannya itu memiliki kekasih lain.

Adapun Rusdin, Mamad, dan Gusmarni harus meregang nyawa karena Gribaldi ingin menguasai mobil dan motor milik mereka. Hal itu terbukti dari ditemukannya Kijang hitam yang biasa dikemudikan Rusdin yang telah berganti nomor polisi. Semula nomornya adalah BK 1274 EP, Gribaldi kemudian mengubahnya menjadi B 2539 AD. Begitu pula Isuzu Panther kepunyaan Mamad, yang semula bernomor B 8467 CE dan telah diganti dengan nomor pelat Jambi.

Lain lagi alasan yang membuat maut menjemput Ngadimin dan Listy. Kedua orang itu diduga mengetahui permainan curang Gribaldi sebagai calo penerimaan pegawai negeri dan polisi di sekolah calon bintara Jambi. Maka keduanya harus dilenyapkan. Dalam melakukan kejahatannya, Gribaldi diduga menggunakan pistol milik anggota Polres Bungo, Jambi, yang hilang empat tahun lalu.

Beberapa tahun terakhir Gribaldi memang terlihat lebih asyik dengan pekerjaan sampingan sebagai calo ketimbang tugas utamanya sebagai polisi. Tak mengherankan bila ia bisa menempati rumah besar di Perumahan Pondok Sejahtera, Kota Jambi. Dalam bekerja, ia biasanya menggunakan beberapa nama samaran seperti Heri, G. Handa T.G., dan Grihanda.

Beberapa rekannya di Polda Jambi bercerita, Gribaldi kurang profesional dalam menjalankan tugas kepolisian. Dia tak serius be-kerja, bahkan tak betah tinggal lama di kantor. Biasanya ia datang ke kantor untuk apel pagi. Seusai apel, ia segera meninggalkan kantor dengan berbagai alasan. Sering ia pergi berjam-jam dengan mengabaikan tugas dan baru kembali saat apel sore.

Di luar sikap yang tak profesional, perilaku Gribaldi relatif wajar. Tak ada gelagat kelainan. Ia suka bergaul dengan siapa saja. Tapi ia juga gampang marah. "Sikapnya keras terhadap petugas yang pangkatnya lebih rendah," kata sejawatnya di Polda Jambi yang tak mau disebut namanya.

Perilaku Gribaldi yang tak profesional diakui Ajun Komisaris Besar Polisi Djoko Turochman. Sebagai ganjaran, beberapa kali Gribaldi terkena hukuman. Ia juga pernah menjalani sidang disiplin akibat kasus perempuan dan asusila.

Gribaldi bahkan pernah menjual nama salah seorang pimpinannya untuk kepentingan pribadi sewaktu bertugas di Polres Kerinci, Jambi. "Dia pernah ditahan dan mengalami penundaan kenaikan pangkat selama dua periode," ujar Kepala Bidang Humas Polda Jambi itu.

Kini Gribaldi masih terus menjalani pemeriksaan di Polda Riau. Berkali-kali Tempo berusaha mewawancarainya, tapi selalu tidak diizinkan oleh petugas.

Akibat dari perbuatannya, tersangka diancam dengan hukuman mati. Ini sesuai dengan harapan keluarga korban yang ia bunuh. "Nyawa harus diganti nyawa." Begitu keinginan Emi, 55 tahun, ibu kandung Mamad. "Saya minta penegak hukum menjatuhkan hukuman mati kepada tersangka. Sama seperti dia membunuh anak saya."

0 komentar:

Poskan Komentar

Search

Arsip

dolor sit amet

GET UPDATE VIA EMAIL
Dapatkan kiriman artikel terbaru langsung ke email anda!